Rabu, 29 Oktober 2014

Subhanallah...

Rahim ibu yang sedang mengandung akan
mengembang 500 kali lipat dari ukuran normal
untuk menampung kandungannya.

Darah yang hilang melalui proses kelahiran normal
adalah 500ml.
 Ini sama dengan setengah liter.

Badan manusia hanya mampu menanggung rasa
sakit hingga 45 Del. 

Tetapi selama bersalin ibu
akan mengalami hingga 57 Del, sama dengan rasa
sakit akibat 20 tulang yang patah bersamaan.

Ibu bersalin akan mendapat pahala yang sama
besarnya dengana 70 tahun shalat dan puasa.

Setiap kesakitan pada satu uratnya, Allah
hadiahkan bagi Ibu yang melahirkan pahala
menunaikan haji.

Apabila seseorang perempuan merasakan sakit
karena akan melahirkan, maka Allah s.w.t.
mencatat baginya pahala orang yang berjihad
pada jalan Allah s.w.t.

Apabila seseorang perempuan melahirkan anak,
keluarlah dosa-dosa dari dirinya seperti keadaan
ibunya melahirkannya.

♥ Ayo sebarkan untuk kebaikan bersama Bunda ...

Rahim ibu yang sedang mengandung akan
mengembang 500 kali lipat dari ukuran normal
untuk menampung kandungannya.

Darah yang hilang melalui proses kelahiran normal
adalah 500ml. Ini sama dengan setengah liter.

Badan manusia hanya mampu menanggung rasa
sakit hingga 45 Del.Tetapi selama bersalin ibu
akan mengalami hingga 57 Del, sama dengan rasa
sakit akibat 20 tulang yang patah bersamaan.

Ibu bersalin akan mendapat pahala yang sama
besarnya dengana 70 tahun shalat dan puasa.
Setiap kesakitan pada satu uratnya, Allah
hadiahkan bagi Ibu yang melahirkan pahala
menunaikan haji.

Apabila seseorang perempuan merasakan sakit
karena akan melahirkan, maka Allah s.w.t.
mencatat baginya pahala orang yang berjihad
pada jalan Allah s.w.t.

Apabila seorang perempuan melahirkan anak,
keluarlah dosa-dosa dari dirinya seperti keadaan
ibunya melahirkannya.
#hanyadenganizinAllah

----BUAH HATI 354

Selasa, 28 Oktober 2014

(Tak) Selamanya Berbagi Kebahagiaan itu Indah



 

Setiap orang di dunia pasti mendambakan kebahagiaan. Terkadang bagi sebagian orang, kebahagiaan  yang dirasakannya itu ingin dibagi dengan orang lain. Berbagi kebahagiaan tak ubahnya seperti menuang air ke dalam wadah. Harus paham betul apa isi wadah itu sebelumnya. Atau wadah itu sudah benar-benar bersih. Jika tidak, kita mungkin akan terperdaya, menganggap air yang tertuang itu akan sama. Padahal berbeda. Karena yang sama hanya warnanya. Sementara rasanya beda.

Sama halnya ketika membuat status2 di dunia maya. Misalnya saja facebook. Maksud hati ingin membagi apa yang tengah dirasa (red.kebahagiaan). Namun (mungkin) tak terpikirkan audiens ”penikmat” status tersebut. Bagaimana perasaan mereka, pemahaman mereka, cara pandang mereka, dan seterusnya terhadap status itu. Akan berbeda-beda pastinya tanggapan mereka. Ada yang positif, ada yang negatif. Positif, alhamdulillah.., negatif,....??? Wallahu a’lam..

Status-status bernuansa romantis (cinta-cintaan) -- khusus bagi yang sudah ”halal”--, baik tulisan ataupun prilaku -- antara mereka berdua--, selaiknya hanya untuk konsumsi pribadi saja. Bukan berarti hal itu salah. Hanya saja ”wadah penampungnya” yang perlu diperhatikan dengan lebih bijak. Sebab, salah-salah, ”air yang dituang ke dalam wadah, bisa jadi menambah kobaran ketika disiramkan ke api, karena  ternyata wadah adalah tempat minyak tanah”. Atau setidaknya mengacaukan pola masing-masing unsur tersebut.

Itu sedikit analogi terhadap kondisi yang akhir-akhir ini sering terlihat oleh saya. Seseorang yang (mungkin) awalnya bermaksud hanya ingin berbagi sebentuk kebahagiaan yang tengah mereka rasakan ketika itu, namun sepertinya (mungkin) terlupa bahwa tempat mereka membagi kebahagiaan itu bukanlah pilihan yang bijak. Apa pasal?? Bisa jadi tempat itu adalah tempat umum, yang bahkan audiensnya (mungkin) belum bisa menerima dan mencerna dengan baik sesuai dengan perasaan, pemahaman serta kondisi dan cara pandang pribadinya tentang apa arti kebahagiaan dari orang yang mem-posting status tersebut. 


Oke, saya lebih perjelas lagi. Pasangan-pasangan yang telah menikah. Pada awal-awal masa pernikahannya, mereka cendrung mengungkapkan apa perasaannya, kegiatannya, pergi kemana, sedang apa dan seterusnya, lengkap dengan dokumentasinya bersama pasangannya. Manusiawi, dan fitrahnya juga memang demikian adanya. Namun terkadang perlu ditinjau ulang kembali, apakah hal tersebut perlu diketahui oleh orang di seluruh dunia..?? Khusus bagi muslim dan muslimah, tidak seluruhnya dari diri kita yang bisa kita bagi kepada khalayak ramai. Ada hal-hal yang perlu dijaga dan dipertimbangkan. Bagaimana dengan saudara2 kita yang belum menemukan pelabuhan cintanya..?? Bagaimana dengan adik-adik kita yang belum sepantasnya memikirkan tentang cinta lawan jenis..?? Alhamdulillah jika itu menjadi motivasi (lebih baik), namun na’udzubillah ketika itu menjadi obsesi yang berlebihan.

Lantas apakah itu salah..?? Memang sebenarnya semua kembali lagi pada niat. Bagi yang mengumbar, niatnya hanya ingin mencurahkan rasa dan kebahagiaannya. Bagi yang melihat, Allahu a’lam... Hanya Allah SWT yang tahu niatnya seperti apa.. :) :)

Mari jaga kesucian cinta dan ukhuwah dengan cara yang lebih baik dan bijaksana. Seperti yang dituliskan Imam Ibnu Qayyim al-Jauziyah dalam bukunya Raudah Al-Muhibbin wa Nuzhah Al-Musytaqin, Cinta itu mensucikan akal, mengenyahkan kekhawatiran, memunculkan keberanian, mendorong berpenampilan rapi, membangkitkan selera makan, menjaga akhlak mulia, membangkitkan semangat, mengenakan wewangian, memperhatikan pergaulan yang baik, serta menjaga adab dan kepribadian. Tapi cinta juga merupakan ujian bagi orang-orang yang shaleh dan cobaan bagi ahli ibadah,”.

Semoga berkah yang dilimpahkan Allah SWT tak tercemar dengan yang lainnya. Seluruh hidup kita untuk yang baik,  kuliah kita untuk yang baik, nikahnya kita untuk yang baik, makannya kita untuk yang baik. Semua  kebaikan terangkum dalam barokah.  Dari mana? Dari langit dan dari bumi. Seperti yang tercantum dalam surah al-A’raaf ayat 96, “Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya.”
 
 ------

Rabu, 08 Oktober 2014

Tentang Rasa Ketika Itu

Ada hal yang bisa dibagi dengan orang lain.
Ada hal yang bisa dibagi dengan keluarga.
Ada hal yang hanya bisa dibagi dengan diri sendiri.
Namun semua hal hidup ini bisa dibagi dengan-Nya.

Ketika keimanan diuji, syetan menyusupi hati dengan hal-hal yang terasa berat.
Itulah syetan, selalu memperdaya manusia, memutuskan yang terikat, melenakan yang sudah diikhlaskan, sehingga menimbulkan kembali rasa tidak ikhlas..

Ketika sendiri, terasa ia datang menghampiri. Seperti ingin menyapa, mengajak bercanda seperti dulu lagi. Mungkin ia merasakan hal yang sama, kami
merindukan satu sama lain.. Tidak mudah ternyata melupakannya, meski kami bersama hanya sebentar. Terkadang masih terasa kami masih bersama saja sekarang..

Allah SWT menyayanginya, melebihi sayang kami padanya. Allah yang menciptakannya, yang memilikinya, dan lebih berhak atas dirinya. Allah belum percayakan kami untuk mengasuhnya. Mungkin itulah yang terbaik untuknya dan untuk kami...

Semoga Allah SWT lapangkan dada kami untuk ikhlas atas ketentuan-Nya, jauhkan kami dari godaan syetan dan Allah terima ia bersama-Nya, disisi-Nya. Aamiin...

Sesungguhnya Allah-lah sebaik-baik pelindung dan sebaik-baik penolong.

Minggu, 12 Februari 2012

Malu Itu Baik


Abu Mas'ud, Uqbah ibn Amr Anshari al Badri ra mengatakan bahwa Rasulullah saw berkata, ''Sabda Nabi paling pertama yang dikenal atau diketahui manusia adalah, 'Jika kamu tidak malu, maka lakukanlah semaumu','' (HR Bukhari, Abu Dawud, Ahmad).

Jangan salah mengerti dengan hadis tersebut. Hadis di atas bukan berarti bahwa Rasulullah saw memberikan kebebasan tanpa batas pada manusia untuk bertindak semaunya. Sebaliknya, hadis itu merupakan sindiran bagi orang-orang yang tak punya malu berbuat kejahatan/kenistaan . Hadis yang disampaikan melalui Abu Mas'ud ra itu justru mengancam orang yang tidak mempunyai rasa malu dalam melakukan apa saja yang dia kehendaki dengan risiko ditanggung sendiri. Ungkapan seperti itu juga dinyatakan Allah dalam firman-Nya, ''Perbuatlah apa yang kamu kehendaki, sesungguhnya Dia Maha Melihat apa yang kamu kerjakan,'' (QS Al Fushshilat: 40).

Malu memang bisa mencegah seseorang untuk melakukan perbuatan yang bertentangan dengan nuraninya. Rasa malu pula yang membuat seseorang akan dikejar-kejar rasa bersalah. Karena itu, hakikatnya malu adalah salah satu perangkat yang diciptakan Allah untuk mencegah kita dari perbuatan dosa. Nabi Muhammad saw pernah bersabda, ''Malu hanya membawa kepada kebaikan,'' (HR Bukhari dan Muslim).

Sesungguhnya rasa malu itu merupakan pagar yang paling kokoh untuk menjaga iman kita agar sendi-sendinya tidak tercerabut dan bangunannya tidak hancur. Sebagai contoh, bila ada orang melihat massa ramai-ramai menjarah dan membakar toko, lalu orang tersebut sadar bahwa perbuatan tersebut tergolong tindakan tercela, maka ia akan mencegah dirinya agar tak ikut-ikutan menjarah. Sebagai mukmin ia malu melakukannya.

Andai para pejabat malu melakukan praktek-praktek korupsi, kolusi, dan nepotis, tentu masyarakat kita tak akan serusak seperti sekarang ini. Di negara lain, Indonesia dikenal sebagai negara terkorup di Asia. Banyak pejabat, mungkin, selama ini merasa aman-aman saja ketika dia melakukan korupsi. Dalam hati mereka mungkin tak ada setitik pun rasa malu terhadap Allah yang jelas menyaksikan semua tindakan manusia. Mungkin mereka masih punya malu terhadap manusia lain, sehingga mereka merasa malu bila ketahuan. Tapi, rasa malu terhadap manusia pun mulai terkikis oleh anggapan, ''Ah, toh hampir semua pejabat melakukannya. Pejabat mana yang bisa kaya tanpa korupsi.''

Hilangnya rasa malu terhadap Allah ini sungguh menyedihkan. Orang yang tak punya malu terhadap Allah akan cuek melanggar perintah dan larangan-larangan- Nya. Semua itu dilakukan tanpa rasa dan tanpa malu. Semestinya kita bercermin pada sabda Rasulullah saw, ''Allah SWT itu lebih berhak untuk dimalui daripada manusia,'' (HR Ashabu Sunan). Dengan memegang sikap ini -- yakni lebih malu kepada Allah ketimbang kepada manusia -- maka insya Allah kita terjaga dari jurang kemaksiatan dan kenistaan. –
Sumber: republika--
visit www.sigitwahyu. net

Sabtu, 10 Desember 2011

Karena Kita Adalah ADK



Ketika kita mengeluh : “Ah mana mungkin.....”
Allah menjawab : “Jika AKU menghendaki, cukup Ku berkata “Jadi”, maka jadilah (QS. Yasin ; 82)

Ketika kita mengeluh : “Capek dan lelahnya aku....”
Allah menjawab : “...dan KAMI jadikan tidurmu untuk istirahat.” (QS.An-Naba :9)

Ketika kita mengeluh : “Berat banget yah, ga sanggup rasanya...”
Allah menjawab : “AKU tidak membebani seseorang, melainkan sesuai kesanggupan.” (QS. Al-Baqarah : 286)

Ketika kita mengeluh : “Stressss nih...Panik..... kacau.....”
Allah menjawab : “Hanya dengan mengingatKu hati akan menjadi tenang”. (QS. Ar-Ro’d :28)

Ketika kita mengeluh : “Yaaaahh... ini mah semua bakal sia-sia..”
Allah menjawab :”Siapa yang mengerjakan kebaikan sebesar biji dzarah sekalipun, niscaya ia akan melihat balasannya”. (QS. Al-Zalzalah :7)

Ketika kita mengeluh : “Gila aja......aku sendirian...... ga ada seorangpun yang mau bantuin...”
Allah menjawab : “Berdoalah (mintalah) kepadaKU, niscaya Aku kabulkan untukmu”. (QS. Al-Mukmin :60)

Ketika kita mengeluh : “ Duh..sedih banget deh aku...”
Allah menjawab : “La Tahzan, Innallaha Ma’ana. Janganlah kamu berduka cita, sesungguhnya Allah beserta kita: (QS. At-Taubah :40)

Ayo broadcast ke tman2 kita smua yg mulai galau atas perhatian Allah yg serasa jauh dari kita pdahal sebaliknya Allah dekat selalu (QS. Al-Baqarah 186)


Pesan : Rabu, 7 Desember 2011..
             20:44

Jumat, 25 November 2011

Aku mengenal diriku

Dulunya aku adalah setetes air yang hina
kelak akan menjadi bangkai yang busuk
kini aku berada di antara keduanya
hilir mudik kesan kemari membawa kotoran
itulah diriku yang sebenarnya
Aku Mengenal Dengan Baik Siapa Diriku..

Kita menilai diri sendiri berdasar apa yang BISA kita lakukan
Orang lain menilai diri kita berdasar apa yang SUDAH kita lakukan

Sabtu, 22 Oktober 2011

Maafkanlah, bila hati tak sempurna mencintai-Mu...

Namun cinta dalam jiwa hanyalah pada-Mu...

 Dari Abu Hurairah Radhiyallahu Anhu, dia berkata, “Aku pernah mendengar Rasulullah SAW bersabda,
“Sesungguhnya orang yg pertama-tama diadili pada hari kiamat adalah orang yang mati syahid. Dia didatangkan ke pengadilan, diperlihatkan kepadanya nikmat-nikmatnya. Maka dia pun mengakuinya. Allah bertanya, ‘Apa yg engkau perbuat dengan nikmat-nikmat itu?’ Dia menjawab, ‘Aku berperang karena Engkau hingga aku mati syahid’. Allah berfirman, ‘Engkau dusta. Tetapi engkau berperang supaya dikatakan, ‘Dia orang yg gagah berani’. Dan, memang begitulah yang dikatakan (tentang dirimu)’. Kemudian diperintah agar dia diseret dengan muka tertelungkup lalu dilemparkan ke dalam neraka.”
“Berikutnya (yang diadili) adalah seseorang yang mempelajari ilmu dan mengajarkannya serta membaca Al-Qur’an. Dia didatangkan ke pengadilan, lalu diperlihatkan kepadanya nikmat-nikmatnya. Maka dia pun mengakuinya. Allah bertanya, ‘Apa yg engkau perbuat dengan nikmat-nikmat itu?‘. Dia menjawab, ‘Aku mempelajari ilmu dan mengajarkannya serta aku membaca Al-Qur’an karena-Mu’. Allah berfirman, ‘Engkau dusta. Tetapi engkau mempelajari ilmu supaya dikatakan, ‘Dia adalah orang yg berilmu, dan engkau membaca Al-Qur’an agar dikatakan, ‘engkau adalah Qari’. Dan, memang begitulah yang dikatakan (tentang dirimu)’. Kemudian diperintah agar dia diseret dengan muka tertelungkup hingga dilemparkan ke dalam neraka.”
“Berikutnya (yang diadili) adalah orang yg diberi kelapangan oleh Allah dan juga diberi-Nya berbagai macam harta. Lalu dia didatangkan ke pengadilan dan diperlihatkan kepadanya nikmat-nikmatnya. Maka dia pun mengakuinya. Allah bertanya, ‘Apa yg engkau perbuat dengan nikmat-nikmat itu?‘. Dia menjawab, ‘Aku tidak meninggalkan satu jalan pun yg Engkau suka agar dinafkahkan harta, melainkan aku pun menafkahkannya karena-Mu’. Allah berfirman, ‘Engkau dusta. Tetapi engkau melakukan hal itu agar dikatakan, ‘Dia seorang pemurah’. Dan, memang begitulah yang dikatakan (tentang dirimu)’. Kemudian dia diperintah agar diseret dengan wajah tertelungkup hingga dilemparkan ke dalam neraka.”
(Diriwayatkan Muslim, An-Nasa’y, At-Tirmidzy dan Ibnu Hibban)
Subhanallah, merinding baca hadits ini…

Kamis, 30 Juni 2011

Dora


 Anda yang gusar menjadi penganguran, tak ada biaya kuliah, pusing memikirkan baju sekolah anak, lihatlah Dora, pikiran anda akan langsung berubah. Siapakah Dora?? Bukan tokoh kartun, gadis berambut pendek yang selalu berpetualang menggunakan tas ransel di punggungnya..Ia hanya orang biasa, bahkan nyaris dilupakan. Namun ia menginspirasi..

Ia hanyalah seorang mahasiswa, bukan mahasiswa luar biasa, yang pandai bergaya. Ia salah satu penghuni bangsal sederhana RSU M. Djamil Padang. Dora menderita penyakit aneh. Darah keluar dari pori-pori kepalanya. Namun cerita luarbiasanya adalah perjalanan hidup gadis yang ditinggal ibunya itu. Untuk bertahan hidup dan memberi makan kedua adiknya, ia rela bekerja apa saja. Menjadi cleaning service hingga tukang ojek. Profesi terakhir inilah yang mengharukan. Agar bisa mengojek, Dora terpaksa mengubah penampilannya menjadi seperti seorang laki-laki. Walaupun demikian, pelecehan tetap saja menghantuinya.

Perjuangan hidupnya membuka mata hati banyak orang. Kisah hidup yang perlu dibaca oleh mereka yang selalu berkeluh kesah dan selalu memaki kemalangan. Seperti sebuah ungkapan, di atas langit masih ada langit. Di antara orang yang susah masih ada yang lebih susah. Dora mengajarkan tentang kesusahan, kekurangan yang bukan untuk ditangisi. Ada ungkapan lain, tak ada kesuksesan yang didapatkan dengan cara yang gampang. Tapi Tuhan bisa saja membuat dunia ini tidak adil. Ada orang-orang yang mendapatkan kesenangan tanpa bersusah payah. Bagi Dora, hidup bukan untuk kesenangan, tapi perjuangan. Ia menemukan kesenangan dalam perjuangan. 

Kini Dora dikenal dimana-mana. Ceritanya ada di berbagai koran, lokal dan nasional. Televisipun menayangkan perjalanannya meneruskan pengobatannya sampai ke ibukota Jakarta. Namun bukan disitu hikmahnya. Duka Dora menyulut kepedulian banyak orang. Sejak Dirawat di RSU M.Djamil Padang, berbagai bantuan datang. Mulai dari pejabat hingga orang biasa yang berderma untuk biaya pengobatannya. Dora menyulut solidaritas sosial yang semakin hilang di negeri ini. Dora bisa jadi hanya punya satu suara, namun suaranya seperti mewakili orang-orang kecil lain yang ada di negeri ini. 


Semoga Dora mendapatkan kesembuhannya. Namun sejatinya, ia telah menyembuhkan sedikit penyakit di negeri ini. Ia menyembuhkan ketidakpedulian yang semakin hilang. Ia menyembuhkan pemimpin dan rakyatnya yang terjarakkan.



(Dari berbagai sumber)

Senin, 16 Mei 2011

Cinta dan Benci


 










Apakah seorang yang ikhlas selalu mencintai apa yang dikerjakannya?

Ya. Jika ‘mencintai’ dimaknai sebagai proses, karena pada awalnya tak selalu begitu. Mula-mula seringkali tidak mudah untuk cinta pada apa yang kita lakukan meski kita tahu bahwa itu adalah kebaikan. Tapi sekali lagi, ini harus dimaknai sebagai proses.  Disinilah seorang yang ikhlas ‘mencintai apa yang dilakukannya’. Bukan sekedar ‘melakukan apa yang dicintainya’.

Atau bahkan bisa terjadi, para mukmin sejati selama hidupnya berada dalam sebuah keterpaksaan suci; keterpaksaan dalam arti yang positif. Mereka mengikhlasinya. Mereka berjuang untuk ikhlas semata-mata karena apa yang mereka lakukan itu diperintahkan oleh Dzat yang paling mereka cintai, Allah ‘Azza wa Jalla. Apakah sikap hati mukmin sejati terhadap perang misalnya.. Benci, itu pasti. Tapi jika Allah yang memerintahkan, suka atau tidak suka, cinta dan benci aka menjadi hal yang terbelakangi.

Diwajibkan atas kamu berperang, padahal berperang itu adalah sesuatu yang kamu benci. Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi kamu mencintai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu. Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.”(Q.s. Al Baqarah: 216)

Para sahabat Rasulullah, yakni orang-orang yang dipanggil ‘kamu’ dalam ayat ini adalah kumpulan manusia paling ikhlas yang hidup di zaman paling ikhlas. Tetapi ikhlas yang mereka upayakan takkan menihilkan rasa benci terhadap perang. Benci, mau tak mau harus diakui. Ikhlas itu tetap tak menafikan rasa muak pada darah yang tertumpah dan luka yang lama sembuh. Allah memahami hal ini. Allah Maha Mengerti. Maka Ia jadikan cinta dan benci sebagai ukuran ikhlasnya perbuatan. “Berbuatlah!”, begitu pesan-Nya. Selebihnya, hikmah-hikmah yang terungkap selama berbuat itu akan menguatkan keikhlasan.

Yang terberat dari ikhlas sesungguhnya adalah saat kita menyadari bahwa ia terletak sejak sebelum kita berbuat, ketika kita sedang berbuat, dan sesudah kita berbuat, seterusnya sampai maut menjemput. Maka menjadi ikhlas adalah proses yang tak kenal henti..

Waallahua’lam…

Senin, 18 April 2011

Wisata Dakwah "Dai Sejuta Ummat", 17 April 2011

 Persiapan panitia

Guru-guru MTsN IV Angkat Candung
(*Siap-siap menjadi pagar ayu.. :) )


Ceramah KH. Zainudin MZ

Kamis, 31 Maret 2011

sejenak..


Seperti apapun hari ini, semoga Allah mengusap lembut hati kita...
Menjadikan kita bagian dari orang-orang yang berjiwa tenang...
Yang kelak akan datang pada Allah dengan wajah yang bercahaya...

Semoga hari-hari kita diwarnai oleh kasih sayang-Nya...

Dan setiap peluh yang menetes bernilai sebagai pemberat amal kebaikan...

Amiin...

Rabu, 30 Maret 2011

Hakikatnya adalah...


Dari Anas ra, dari nabi saw, beliau bersabda:
“Ada tiga hal dimana orang yang memilikinya akan merasakan manisnya iman, yaitu mencintai Allah dan rasul-Nya melebihi segala-galanya, mencintai seseorang hanya karena Allah, dan enggan untuk menjadi kafir setelah diselamatkan Allah daripadanya sebagaimana enggannya kalau dilempar ke dalam api.” (HR. Bukhari dan Muslim).
 
Dari Abu Hurairah ra, rasulullah saw bersabda:
Demi zat yang jiwaku ada dalam genggaman-Nya, kamu sekalian tidak akan masuk surga sebelum beriman, dan kamu sekalian tidaklah beriman sebelum saling mencintai….” (HR Muslim)
 
Cinta Kepada Allah, Itulah yang Hakiki Cinta bagaikan lautan, sungguh luas dan indah. Ketika kita tersentuh tepinya yang sejuk, ia mengundang untuk melangkah lebih jauh ke tangah, yang penuh tantangan, hempasan dan gelombang dan siapa saja ingin mengarunginya. Namun carilah cinta yang sejati, di lautan cinta berbiduk ‘taqwa’ berlayarkan ‘iman’ yang dapat melawan gelombang syaithan dan hempasan nafsu, insya Allah kita akan sampai kepada tujuan yaitu: cinta kepada Allah, itulah yang hakiki, yang kekal selamanya.
 
Adapun cinta kepada makhluk-Nya, pilihlah cinta yang hanya berlandaskan kecintaan kepada Allah dan Rasul-Nya. Bukan karena bujuk rayu setan, bukan pula karena desakan nafsu yang menggoda. Cintailah Allah, berusahalah untuk menggapai cinta-Nya.
 
Menurut Ibnu Qayyim, ada 10 hal yang menyebabkan orang mencintai Allah swt:
1. Membaca Al-Qur’an dan memahaminya dengan baik.
2. Mendekatkan diri kepada Allah dengan shalat sunat sesudah shalat wajib.
3. Selalu menyebut dan berzikir dalam segala kondisi dengan hati, lisan dan perbuatan.
4. Mengutamakan kehendak Allah di saat berbenturan dengan kehendak hawa nafsu.
5. Menanamkan dalam hati asma’ dan sifat-sifatnya dan memahami makna.
6. Memperhatikan karunia dan kebaikan Allah kepada kita.
7. Menundukkan hati dan diri ke haribaan Allah.
8. Menyendiri bermunajat dan membaca kitab sucinya di waktu malam saat orang lelap tidur.
9. Bergaul dan berkumpul bersama orang-orang soleh, mengambil hikmah dan ilmu dari mereka
10.Menjauhkan sebab-sebab yang dapat menjauhkan kita daripada Allah. 
 
Moga bermanfaat... :)
Wassalaam

Minggu, 13 Maret 2011

P.E.N.G.E.R.T.I.A.N


Pernahkah anda merasa menanggung sebuah beban hanya seorang diri?? Ketika suatu amanah yang mesti ditanggungjawab-i secara bersama--berjamaah-- ternyata hanya anda sendiri saja rasanya yang mengembannya?? Bisa ya bisa pula tidak. Bagi saya, ada suatu kisah yang masih membekas karena hikmahnya ternyata belum begitu lama ini mampu benar-benar saya pahami dengan semestinya...
Alkisah, saya sedang mengemban amanah yang besar bagi saya waktu itu. Tapi sepertinya lebih tepatnya "kami" --saya dan beberapa akhwat dan ikhwan lainnya-- diberi amanah yang cukup menyita waktu dan pikiran pada waktu itu. Ketika pada suatu musyawarah--tempat dimana kita yang terlibat didalamnya berusaha dengan maksimal untuk merancang kerja-kerja dakwah-- sepertinya hanya dimiliki oleh beberapa dari sekian orang yang diamanahkan. Ya, seperti itulah yang terjadi selama beberapa waktu pada periode amanah kami berlangsung.
Kemana mereka/dia?? Bukankah kita sama-sama diberikan amanah yang sama?? Kenapa hanya saya saja yang memikirkannya??Kenapa mereka/dia punya pilihan sedangkan saya tidak?? Kenapa saya yang harus tinggal untuk menyelesaikan amanah ini??? Kenapa... Kenapa..dan Kenapa..???
Seperti itulah dialog-dialog hati ini ketika saya merasa futur dan pada kondisi lemahnya saya. Saya sadari bahwa apapun kondisinya, dialog semacam itu hanya akan memperburuk keadaan. Namun saya mencari pembelaan diri sendiri: Mereka/dia tidak mau berusaha memperbaiki kondisinya, dalam artian, tidak ada komunikasi mengenai kondisinya masing-masing. Jikalau mereka/dia memang merasakan satu team dalam amanah yang sama dengan kami, maka harusnya ada sebentuk kepercayaan terhadap saudara-saudaranya.  Alhasil, jadilah orang-orang termasuk saya punya pendapat masing-masing tentang mereka/dia. Dan pendapat itu terserah kami yang menilai, toh mereka/dia memang tidak memberi tahu kami.. Ada pendapat negatif ada pendapat positif. Tapi saya sendiri cendrung berpendapat negatif waktu itu.. Wallahua'lam..
Jika Anda menjadi saya, samakah yang kita pikirkan?! Awalnya saya juga kesal dengan kondisi seperti ini. Tapi tak butuh berapa lama saya sadar saya keliru. Tentulah ada alasan ‘besar’ mengapa mereka/dia bersikap demikian, dan ternyata — sepenangkapan saya — ada salah seorangnya yang butuh waktu lebih untuk suatu pekerjaan yang sangat dibutuhkannya pada waktu itu, ada lagi yang memang butuh waktu untuk berkonsentrasi pada suatu hal penting dalam hidupnya, yang lain merasa tidak begitu paham akan amanah yang telah diberikan padanya sehingga segan untuk bergabung. Begitulah, disamping masih banyak lagi ternyata yang menjadi jawaban dari pertanyaan dialog-dialog hati saya sebelumnya. Masih kesalkah saya kemudian?! Tidak ternyata, saya mengerti, orang tersebut punya alasan, dan alasannya penting --baginya--..
Beberapa waktu kemudian saya baru benar-benar bisa memahami hikmah endapan ingatan tersebut, tak lain adalah tentang prasangka. Mudah memang untuk merasa kesal dan marah pada orang tersebut, dan bisa jadi saya juga tidak tertarik mengapa orang itu tidak bertanggungjawab atas amanah kami, pokoknya saya merasa sendiri dan tidak punya pilihan, titik.! Tapi, ketika saya sedikit menajamkan mata dan mengamati, oh..ternyata ada salah seorang saudara yang sedang dalam keadaan susah. Oh..kasihan kalau dipaksa untuk menyelesaikan amanah kami ini..kelihatannya mereka/dia memang tak punya pilihan lain selain meninggalkan amanahnya --mudah-mudahan dalam waktu yang tidak lama--. Dan akhirnya, tak apalah sendiri sejenak…
Prasangka, sebagian besarnya adalah menggiring pada dosa. Bisa dipahami dari peristiwa di atas, yaitu akan lebih mudah mengira tentang keburukan daripada kebaikan, :)  Tapi ketika kita mampu ‘memaksa’ pemikiran kita untuk lebih terbuka dan mengamati — tidak hanya sekedar melihat — maka akan lahir pemahaman baru yang bisa jadi berbeda. Pemahaman yang bernama PENGERTIAN :)
Bagi saya, berprasangka itu melelahkan, itu yang jelas. Karena seperti jabaran hukum tarik menarik dalam buku The Secret. Pemikiran akan menarik hal-hal lain yang senada dengannya. Dengan demikian, pemikiran negatif atau prasangka itu akan menarik lebih banyak lagi hal negatif lainnya. Sebagaimana sebaliknya, setiap pemikiran positif juga akan menghadirkan lagi lebih banyak hal positif dalam diri kita. Jadi, jika demikian, mulai sekarang mari kita perbaiki akhlaq kita semua. Dimulai dengan berprasangka baik terhadap orang lain. Kita akan berkumpul dengan orang-orang baik dan insya Allah kita akan tertular menjadi orang yang baik. Sederhana saja kan, insya Allah :)
Daripada melelahkan diri dengan berkesal-kesal dengan orang lain, mari pindah arah pandangan. Insya Allah ada alasan di balik setiap tindakan. Dengan membiasakan diri berpikir demikian, insya Allah pikiran juga akan lebih tenang, dan pada kelanjutannya kita akan bisa merasa lebih nyaman dengan segalanya. Insya Allah juga, segala persoalan akan teratasi jika diawali dengan pemikiran yang tenang dan nyaman. :)
 *Untuk mereka yang sering merasa sendiri dalam keramaian